Minggu, 13 Februari 2011

Bangkit Para Pemuda : Tiriskan Zamrud Khatulistiwa dari Tungku Perapian

Bangkit Para Pemuda : Tiriskan Zamrud Khatulistiwa dari Tungku Perapian
Oleh : Indra Umbara Nikolaas Tirtadinata Fellow
Mahasiswa Manajemen dan Bisnis Semester Dua
Universitas Paramadina

Sumber : www.google.com
Indonesia salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki berbagai warisan kekayaan alam di dalamnya. Negeri ini terdiri atas lebih dari 13.000 pulau yang terbentang di garis khatulistiwa sepanjang lebih dari 5.000 km dari timur ke barat (Victor,Johnson dan Hafild, 1999). Negeri yang menduduki peringkat IV dengan jumlah penduduk  terbanyak di dunia ini memiliki berbagai kawasan pertambangan dengan bermacam-macam jenis hasil tambang di dalamnya, serta berbagai objek wisata yang memukau perhatian wisatawan domestik maupun internasional. Selain itu negeri yang berjuluk jamrud khatulistiwa ini memiliki kekayaan hutan yang beranekaragam. Menurut  Supriatna (2008) hutan di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis. Pertama, hutan rawa gambut dan hutan air tawar yang terletak di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Kedua, hutan kerangas di daerah Kalimantan yang merupakan kawasan hutan kerangas terluas di Asia Tenggara. Ketiga, hutan batu kapur (limestone), hutan berbatuan primitif/ultrabasic rock yang terletak di Sulawesi, hutan jenis ini merupakan hutan terluas di dunia yang Indonesia miliki. Selain itu, di sebuah kawasan kering di sebelah tenggara (Nusa Tenggara), ada hutan gugur daun musiman, padang rumput savana dan hutan musim. Berbagai habitat hijau memang menggelora di bumi pertiwi, sehingga Indonesia dianggap sebagai salah satu negara penghasil oksigen terbesar di dunia atau paru-paru dunia. Sangat menakjubkan bukan? Bahkan Victor, Johnson & Hafild (1999) menjelaskan, meskipun Indonesia hanya menempati 1,3% wilayah daratan di bumi, negeri ini memiliki lebih dari 17% spesies di bumi dibandingkan dengan negara lain. Mereka juga menegaskan bahwa secara konservatif, Indonesia menjadi hunian lebih kurang 11% jenis tanaman berbunga di dunia, 17% semua burung, dan sekurang-kurangnya 37% ikan di dunia. Semua kekayaan itu hanya ada pada hutan di Indonesia.
Sayangnya beberapa kekayaan yang kita miliki perlahan-lahan mulai menunjukkan pengurangan pada segi kuantitas sehingga berpengaruh langsung pada segi kualitas. Hal ini bisa kita lihat pada  beberapa kekayaan Indonesia khususnya hutan yang berangsur-angsur mengalami penurunan fungsi karena mengalami kerusakan. Pernyataan tersebut dipertegas oleh World Resource Institute (dalam Jafar, 2010) yang menyatakan bahwa luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan, bahkan hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 %. Bisa kita bayangkan angka 72% bukanlah persentase yang kecil, atau bisa kita katakan hampir 3/4 hutan kita mengalami degradasi dan deforestasi yang cukup parah karena berbagai faktor. Adiwinata, Murniati & Ramboko (2008) menjelaskan bahwa ada 2 macam faktor pendorong yang menyebabkan deforestasi dan degradasi yang terjadi di Hutan Indonesia. Pertama adalah faktor pendorong secara langsung diantaranya yaitu kegiatan penebangan secara liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan yang sering terjadi terutama pada musim kemarau yang panjang. Kedua, faktor pendorong tidak langsung antara lain yaitu kegagalan pasar (misalnya penetapan harga kayu yang terlalu rendah), kegagalan kebijakan, serta persoalan sosial-ekonomi dan politik.
Hal tersebut dapat kita lihat pada beberapa kasus yang pernah terjadi di negeri ini. Pada tahun 2008 terjadi perambahan hutan Lindung Gambut Sungai Arus Deras di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Mitra Aneka Rezeki dan PT Rezeki Kencana (www.kompas.com diakses pada tanggal 13/02/10 pukul 14:57). Masih pada tahun 2008, Belasan hektare areal hutan lindung di kawasan pegunungan Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, diduga beralih fungsi menjadi daerah pemukiman. Di kawasan tersebut sudah banyak dilakukan pembangunan pertokoan, kios dan pembukaan lahan pertanian serta perkebunan masyarakat (www.kompas.com diakses pada tanggal 13/02/10 pukul 15:03). Di tahun 2008 juga, hutan lindung seluas 14.000 hektar di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dialih fungsi untuk pertambangan (http://cetak.kompas.com diakses pada tanggal 13/02/10 pukul 15:06).
Beberapa kasus yang pernah terjadi di atas hanyalah tiga kasus dari ribuan kasus penyiksaan terhadap hutan di Indonesia. Bahkan menurut Joewono (2009) kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai angka rata-rata sebesar 1,1 juta per tahunnya. Memang tragis, di tengah kondisi kinerja pemerintah yang dirasa kurang memaksimalkan tindakan pro-rakyat, hal yang merugikan negara khususnya lingkungan hidup harus selalu terjadi, namun inilah fakta yang harus kita hadapi. Hutan yang sejatinya sebagai sarana mengabsorbsi CO2, berlindungnya flora-fauna, sumber makanan, sumber obat-obatan, harus meregang nyawa di bawah struktural organisasi perusahaan multinasional, perusahaan skala global, dan oknum-oknum tidak bertanggung jawab selama bertahun-tahun demi mengeruk keuntungan pribadi.
                Tak hanya hutan saja yang rusak dan berpengaruh terhadap lingkungan hidup kita, dalam kehidupan sehari-hari pun manusia sering melakukan berbagai tindakan yang secara sadar atau tidak berpengaruh langsung pada pencemaran lingkungan hidup. Misalnya adalah penggunaan energi listrik yang berlebihan, sampah yang dibuang tidak pada tempatnya, limbah pabrik yang tidak diolah dengan baik, volume pengeluaran asap kendaraan bermotor yang semakin hari semakin bertambah banyak saja jumlahnya.
                Uraian pada dua alinea di atas adalah penyebab utama dari perubahan iklim yang sekarang sudah kita rasakan dampaknya. Perubahan iklim adalah implikasi dari global warming yang sudah bersenggama dengan bumi kita. Dampak perubahan iklim yang paling mencolok adalah hujan ekstrem,  ditambah lagi dari beberapa penelitian yang mengatakan bahwa permukaan air laut setiap tahunnya berangsur mengalami kenaikan. Fakta yang sudah terjadi terkait dengan naiknya permukaan air laut terjadi di pantai utara Pulau Jawa (Pantura) yang mengalami kenaikan antara 6-10mm per  tahun. Dalam penelitian ini juga dijelaskan bahwa  kota-kota di pesisir Pulau Jawa seperti di Kota Pekalongan dalam 100 tahun yang akan datang, akan terjadi genangan air laut sampai sejauh 2,1 km dari garis pantai, sementara Kota Semarang akan tergenang sejauh 3,2 km dari garis pantai (Soebandono, 2009 dalam Sudibyakto, 2010). Jika perubahan iklim ini terus bergumul dengan  bumi kita, bisa kita banyangkan bagaimana keadaan bumi kita 100 tahun mendatang.
                Kenyataan keadaan lingkugan hidup yang sekarang terjadi adalah imbas dari perlakuan manusia terhadap lingkungan hidup sebelumnya. Semua kenyataan pahit ini memang mau tidak mau harus kita telan dan kita rasakan dampaknya. Namun tentu kita tidak mau diperbudak oleh keadaan bukan? Marilah kita renungkan!!! Kesadaran akan selalu berbenah adalah satu langkah untuk mencapai perbaikan ke depan. Selain kesadaran, tentu diperlukan tindakan konkret untuk mengentaskan permasalahan ini. Sedikit tindakan saja secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap lingkungan sekitar. Jika dua hal tersebut kita laksanakan dengan semangat dan kerja keras, maka tidak hanya Indonesia yang nantinya akan merasakan manfaat dari kesadaran akan pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup, tetapi juga seluruh dunia.
Sumber : http://furyfadjri.blogspot.com/
Sadar akan dampak buruk dari laju perubahan iklim baiknya dilanjutkan dengan aksi untuk menahan laju perubahan ikim. Kita dapat melakukan berbagai cara yang sesuai, salah satunya dengan mengaplikasian konsep go green yang memang sudah lama di gembar-gemborkan oleh berbagai instansi pemerintah maupun instansi-instansi yang memang peduli terhadap persoalan lingkungan hidup. Sebagai pemuda penerus bangsa yang juga peduli dengan lingkungan hidup, saya mengusulkan beberapa ide yang selama ini belum pernah saya sampaikan ke dalam bentuk tulisan terkait langsung dengan tema memperlambat laju perubahan iklim di Indonesia bahkan dunia, dengan harapan saya bisa mengikuti acara “Report From The Field” yang diadakan oleh www.vhrmedia.com dan menyampaikan ide saya secara langsung. ^_^
                Adapun beberapa usulan yang ingin saya utarakan berdasar dari pernyataan sederhana  yaitu tanggung jawab terhadap lingkungan hidup tidak hanya milik sekelompok orang namun tanggung jawab semua orang yang menginjakkan kakinya di bumi ^_^. Oleh karena itu, saya mengusulkan beberapa ide yang pastinya akan bermanfaat jika dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat yang tentunya didukung dengan penuh kesadaran.
Pertama, ada upaya pemerintah untuk menyamaratakan pengetahuan tentang lingkungan hidup. Pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas,  saya mengusulkan kepada pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional untuk mewajibkan adanya mata pelajaran khusus bertema lingkungan hidup. Pada tingkat perkuliahan juga demikian, tidak hanya mahasiswa yang mengenyam bidang kuliah Teknik Lingkungan dan sejenisnya saja yang menyantap mata kuliah lingkungan hidup,  namun saya juga mengusulkan kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk mewajibkan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia apapun jenisnya untuk memberikan hidangan menu wajib yaitu mata kuliah lingkungan hidup pada semua bidang keilmuan. Mengingat kita semua adalah pemuda yang selalu bercengkramah dengan lingkungan hidup. Harapan saya apabila gagasan ini bisa terwujud adalah akan bermunculan ide-ide segar dan tindakan nyata dari pemuda-pemudi Indonesia untuk membenahi lingkungan hidup kita.
Kedua, membentuk kelompok Pemuda Hijaukan Bangsa. Pemerintah bekerjasama dengan LSM yang concern terhadap lingkungan hidup, membentuk kelompok ini sebagai instansi pemerintah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk mengajarkan kepada para pemuda (khususnya mereka yang tunakarya dan mau peduli terhadap kondisi lingkungan hidup) untuk terjun langsung membenahi dan menjaga lingkungan hidup di Indonesia. Selain terjun langsung, kelompok inilah yang nantinya akan menularkan semangat menghijaukan bangsa dan menjaga lingkungan hidup. Tindakan menularkan, bisa berkonsep demikian, pemuda yang tergabung dalam kelompok Pemuda Hijaukan Bangsa bisa menjadi seorang guru dalam mata pelajaran lingkungan hidup di tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Mengengah Atas.  Gagasan ini saya tuangkan mengingat banyak angka pengangguran di Indonesia. Harapan saya dengan adanya gagasan ini, selain akan meningkatkan pengetahuan lingkungan kepada para pemuda, Indonesia akan terbantu dalam minimalisasi angka pengangguran.
Ketiga, membentuk Bank Hijau. Pemerintah membuat bank atau menunjuk salah satu bank di Indonesia untuk berorientasi pada penyimpanan dana guna mendukung aksi penghijauan dan pemeliharaan lingkungan hidup. Pada gagasan saya kali ini, pemerintah baiknya mewajibkan kepada seluruh perusahaan-perusahaan nasional maupun asing yang ada di Indonesia terutama kepada perusahaan- perusahaan yang terbukti menyisakan limbah pada proses produksinya, selain itu juga kepada perusahaan-perusahaan yang memang merusak lingkungan hidup dalam aktivitasnya, untuk menyisihkan beberapa persen pendapatannya dalam Bank Hijau tersebut. Namun perlu dicatat gagasan ini tidak lantas membiarkan perusahaan-perusahaan untuk membiarkan lingkungan yang telah dirusak dan hanya menggantinya lewat Bank Hijau, namun pemerintah harus mewajibkan perusahaan-perusahaan tadi untuk mengembalikan lingkungan hidup yang dirusak untuk dihijaukan kembali. Kembali lagi, bank inilah yang akan menyuplai dana untuk aktivitas kelompok Pemuda Hijaukan Bangsa. Bank ini juga yang akan mendukung bidang penelitian atau tindakan nyata para siswa hingga mahasiswa yang telah mengenyam mata kuliah lingkungan hidup (no. 1). ^_^
Sumber : www.vhrmedia.com
Keempat, Green Your Country!!! Ide ini muncul karena terinspirasi oleh tema writing contest yang diadakan oleh www.vhrmedia.com,  saya mengusulkan kepada organisasi kelas dunia (PBB) kepada utusannya yang berkecimpung dalam masalah lingkungan hidup yang dalam hal ini adalah UNEP, untuk mengadakan kompetisi “Green Your Country!” Kompetisi ini diikuti oleh negara-negara yang sejatinya sebagai negara-negara penghasil oksigen terbanyak di dunia (paru-paru dunia). Dalam kompetisi ini, UNEP bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan penyumbang gas emisi terbanyak sebagai donatur. Tentunya akan memberikan reward yang besar kepada negara pemenang. Pemenang kompetisi ini adalah negara yang berhasil menaikkan persentase pemulihan hutan terbanyak dan tercepat. Kompetisi ini bisa dilakukan setiap tahunnya. Harapan saya adalah negara-negara peserta memiliki antusias yang tinggi dan bergerak beberapa langkah lebih cepat dalam memperbaiki lingkungan hidupnya.
Saya selalu optimis Indonesia akan selalu bisa berbenah dari kesalahan setiap waktu di segala bidang, tak terkecuali perbaikan di bidang lingkungan hidup. Saya berharap gagasan-gagasan yang  sampaikan bisa didengar dan terwujud di Indonesia, karena saya optimis gagasan yang saya utarakan akan dapat menelurkan manfaat yang besar untuk perbaikan lingkungan hidup, yang tentunya apabila didukung oleh semua pihak dengan penuh kesadaran. Pemuda bangsa adalah alat vital penggerak perubahan, perubahan yang bisa dilihat, dirasakan, dan ditularkan kepada seluruh warga dunia. Ini bukan waktu untuk saling menyalahkan namun ini adalah waktu untuk berbenah bersama demi kelangsungan hidup bersama. Sebagai bagian dari pemuda penerus bangsa yang peduli akan lingkungan hidup, saya akan selalu berusaha untuk berbuat segala sesuatu yang terbaik untuk lingkungan hidup saya dan terus berharap semangat dan kepedulian terhadap lingkungan hidup akan terus menular kepada orang lain di sekitar saya.
Karya ini dibuat untuk membangkitkan semangat kepedulian terhadap lingkungan hidup dan mengikuti Beat Blog Writing Contest yang diadakan oleh www.vhrmedia.com
Sumber : www.vhrmedia.com


DAFTAR PUSTAKA
Sudibyakto,A. 2010. “Perubahan Iklim di Indonesia : Konsep, Adaptasi, dan Mitigasi Dampak”, Jurnal Tanah Air. Jakarta : WALHI
Supriatna, Jatna. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Victor,Charles, Johnson, Nelsc dan Hafild, Emmy. 1999. Menyelamatkan Sisa Hutan di Indonesia dan Amerika Serikat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
     

               



               

6 Responses so far.

  1. Gudpost brothers :-)
    Lanjutkan dengan tulisan2 yang lain,,
    Sbg penerus bangsa kita wajib menjaga dan melestarikan kekayaan alam negeri kita tercinta,
    Smg ide2 brilian yang ditawarkan dapat segera di realisasikan dan diwujudkan,,
    Semoga,, amin ya robbal’alamin :-)
    Dari lingkungan kita hidup, oleh lingkungan kita bisa berpijak tegak, maka amri kita jaga lingkungan kita,,

    Sukses :-)

  2. Makasih Kang....betul sekali...aq berhara demikian....Indonesia Pasti Bisa!!!!!!!!!!!!!!! SEMANGAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku bakal terus menulis, menulis dan menulis..tetapi juga beraksi... :D

  3. Edo says:

    Wah makin lama makin banyak nich perkembangan blognya,
    Lanjutkan bro!!

  4. keep writing bro! nice post :)

  5. @Young: Thank You...:)
    @Rona:Makasih ya Rona.....:D

Leave a Reply

 
 

Kampus Tercinta

www.kampusparmad.com